Selasa, 10 Mei 2011 07:00

Ada “Jokasmo” di Pendopo Bangsri Jepara

Written by Mus
Rate this item
(0 votes)

Jepara - Mbah Tohir, manusia panggung yang meski telah berusia lanjut, masih semangat untuk melakukan pendidikan-pendidikan keteateran ke seluruh Indonesia.

Lebih dari 35 kota ia sambangi untuk pentas monolog. Salah satu tempat yang ia kunjungi adalah Jepara. Bertempat di Pendopo Kecamatan Bangsri kabupaten Jepara, Minggu, (27/12) malam Mbah Tohir mempersembahkan Jokasmo.

Acara yang diselenggarakan oleh Mata Aksara ini dimeriahkan musik Kroncong Nekad Brandal Rasno dari Kembang Jepara dan juga pementasan Teater Laskar MA NU Tengguli dengan lakon ‘Cinta di Tolak, Bapak Bertindak” karya Sashmitha Wulandari disutradarai Rohim.

Pementasan ini merupakan persembahan Mbah Torir untuk insan seni Jepara setelah sebelumnya Rabu (24/12) ia menjadi pemateri Workshop X Teater Laskar.

Dalam pementasan ini, Jokasmo sebagai tokoh yang diperankan oleh Mbah Tohir, tetap konsisten menunggui panggung sandiwara yang telah sepi karena ditinggalkan penontonnya.

Jokasmo berkeyakinan bahwa di panggung ini terdapat pelajaran tentang kehidupan. Begitulah Jokasmo menyimpulkan perjalanan hidupnya yang dinikmati dari panggung ke panggung.

Sebuah bentuk ibadah sosial maupun spiritual yang indah. Jokasmo, tokoh yang diperankan Mbah Tohir ini, menjadi cerminan sosok tua yang “terpinggirkan” dan menjadi saksi sisa kejayaan panggung tradisi.

Mbah Tohir, tak asing bagi para pecinta Srimulat yang jaya sejak tahun 60-an. Mbah Tohir yang telah berusia 68 pada tahun ini, mengawali kariernya di panggung Srimulat di Taman Hiburan Rakyat Surabaya.

Berbekal tekad yang lahir dari kecintaannya terhadap panggung, ia melakukan pertunjukan keliling ke banyak kota dan menjadi aktor monolog.

Perjalanan dan pilihan hidupnya untuk terus berteater merupakan rentetan naskah kehidupan yang meski belum tertuliskan, namun telah dapat dinikmati serta diambil hikmahnya.

Sekalipun kini yang digeluti adalah dunia monolog yang notabene adalah salah satu bentuk seni pertunjukan modern, namun perbincangan Mbah Tohir tidak pernah lepas dari semangat dunia seni pertunjukan tradisi.

Ia terus melakukan eksplorasi terhadap naskah Jokasmo sehingga disetiap pementasannya terdapat nuansa dan adegan yang berbeda.

Inspirasi untuk mengeksplorasi naskah ini ia dapatkan dari perjalanan dan kehidupan sehari-hari, maka dari situlah ia menyebut bahwa pementasannya bukanlah naskah yang dipentaskan, tetapi naskah yang berpentas.

Tidak ada kekakuan dan batasan dalam mengeksplorasi sebuah naskah, termasuk naskah “Jokasmo” yang merupakan adaptasi dari Naskah “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov.

Meski sejak siang Bangsri di guyur hujan deras namun itu tidak menjadi pengahalang bagi terselenggaranya pementasan ini. Mbah tohir tetap mampu tampil dengan maksimal meskipun cuaca sangat tidak bersahabat.

“Teater adalah jalan hidup saya jadi apapun yang terjadi saya akan tetap pentas, cuaca tidak akan berpengaruh terhadap pementasan saya,” kata Mbah Tohir di forum diskusi yamng dipandu Didin usai pementasan.

Lebih lanjut ia mengatakan pegiat teater itu harus kuat, berdisiplin mempunyai kepekaan yang tinggi.

Acara ini diselenggarakan dengan harapan agar menjadi inspirasi karya para seniman dan untuk menumbuhkan ide-ide kreatif dalam berkesenian di Jepara. Dengan terselenggaranya event ini, akan muncul pola-pola kesenian yang baru dan yang akan menggerakkan budaya lokal. (Ali Burhan/ qim)

Sumber: SoearaMoeriaOnline

Read 246 times

Ponpes Az Zahra

SMP Az Zahra